-
20 Feb 2025
-
Dilihat: (1269)
SEJARAH BERDIRINYA DESA BUNIAYU
Alhamdulillah, berkat rahmat dan karunia Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan narasi Legenda berdirinya desa buniayu kecamatan tambak kabupaten banyumas. Shalawat dan salam kita mohonkan kepada Allah untuk nabi kita Muhammad S.A.W., beserta para sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Menelusuri jejak sejarah asal usul nenek moyang suatu desa yang telah berlalu ratusan bahkan ribuan tahun, tentu bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi tidak didukung argumentasi yang lengkap baik lisan maupun tulisan, yang secara rasional dapat diyakini keabsahannya. Begitulah keadaannnya ketika kita hendak melacak asal usul nenek-moyang masyarakat dan adat budaya Desa Buniayu. Para sesepuh desa adalah satu-satunya sumber baku yang telah ada. Namun bila dicermati, di samping ada kesamaan pendapat antara satu dengan lainnya, juga banyak perbedaan yang ditemukan. Di samping banyak sekali ditemukan catatan tahun kejadian peristiwa yang tidak urut secara kronologis
Namun terlepas dari itu semua, sebagai generasi penerus yang keberadaan wilyah-nya telah diakui sejak lama jauh sebelum adanya penataan batas-batas wilayah dan suku bangsa sampai Indonesia merdeka, agaknya suatu kewajiban yang tak boleh diabaikan untuk terus aktif menggali dan melacak sejarah asal usul nenek-moyang dan adat serta budaya masyarakat Desa Buniayu yang ada sekarang. Kewajiban tersebut terutama terpikul bagi Pemerintahan desa yang saat ini ada untuk menulis legenda desa buniayu. Karenanya, apa yang dipaparkan dalam buku ini merupakan refleksi dari ungkapan para sesepuh desa. Ada sebelumnya yang telah menulis sejarah desa, namun kami memandang perlu untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.
Kekhawatiran akan hilangya nara sumber dalam penuturan serta tertinggal dan lupa dalam penulisan, sehingga apa yang dihidangkan terasa belum pas dan agak kurang garamnya. Mudah-mudahan paparan yang sederhana ini merupakan kontribusi secuil pendapat untuk menjalin mata rantai sejarah perjalanan hidup awal nenek-moyang Desa Buniayu yang tersusun indah sebagai sesuatu yang berkesinambungan. Namun, karena Tim Penyusun hanya bertolak dari dialog dengan beberapa tokoh yang jumlahnya sangat terbatas, tidak mustahil ibarat pepatah “tak ada gading yang tak retak. Tak ada tupai yang tak gawa”. Maka apabila terdapat kejanggalan dan kesalahan di dalamnya mohon diperbanyak maaf dan dengan tangan terbuka kami menerima kritik dan saran serta pemikiran yang konstruktif bagi penyempurnaan penulisan berikutnya.
Atas semua bantuan yang diberikan, oleh sesepuh desa Buniayu dan pemuka masyarakat, kami penyusun menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-sebarnya. Semoga bagi bapak-bapak semua bernilai ibadah dan amal shaleh di sisi Allah SWT. Kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan masukan serta keizinan mengutip materi, berdialog atau dengan cara lainnya, kami ucapkan terima kasih. Semoga upaya ini membawa manfaat bagi perkembangan masyarakat desa buniayu dimasa yang akan datang. Insya Allah. Buniayu, 26 November 2018 M/ 17 Mulud 1440 H.
LEGENDA BERDIRINYA DESA BUNIAYU
Bahwa sejarah berdirinya desa buniayu tidak pernah ditulis secara rinci oleh para pendahulu desa namun ada sejarah yang secara turun temurun di ceritakan bahwa sebelum tahun 1800 M ada dua orang yang telah menjadi pemimpin dikala itu yaitu pertama Pak empang yang menamai Desa Gunung sari dan tinggal di Panempang (sekarang grumbul buniayu) dan setelahnya ada Pak Gandu yang tinggal diwilayah sigandu dan merubah nama desa dari Gunung Sari menjadi desa Gandu Sari.
Sepeninggal kedua orang tersebut adalah seorang yang bernama Mbah Buyut Lekor. Dalam kehidupan sehari-harinya adalah menebang hutan untuk menjadikan lahan pertanian disepanjang pinggiran sungai (saat ini disebut Sungai Ijo). Mbah buyut lekor konon cerita berasal dari timur atau anak keturunan Kerajaan Majapahit dan mereka hidup rukun dalam berumah tangga, mbah Buyut Lekor hidup dengan seorang istri dan satu anak perempuan. Mbah Buyut Lekor setiap hari berjuang menebang hutan untuk menjadikan lahan pertanian dan selalu tekun merawat tanaman yang dibantu oleh istri dan anaknya.
Seiring bertambahnya waktu sehingga putrinya tumbuh menjadi dewasa dan sampai meningggal dunia putri Mbah Buyut Lekor tidak mempunyai suami, warga menyebutnya Perawan Sunthi (orang yang sampai meninggalnya belum pernah menikah). Daerah dimana Mbah Buyut Lekor beserta istri dan anaknya bertempat tinggal dinamai Gandu Sari hingga sepeninggalnya adalah Mbah Wahad dan mbah cablaka dua orang bersaudara yang ingin bertempat tinggal di daerah ini untuk meneruskan perjuangan Mbah Buyut Lekor. Untuk membagi wilayah dua keluarga ini mbah buyut lekor memisahkan keduanya bahwa mbah wahad tinggal di sebelah barat sungai Desa Gandu sari dan mbah cablaka bertempat tinggal di sebelah Timur sungai (saat ini menjadi Desa Bumiagung yang masuk wilayah Kabupaten Kebumen).
|
|

Makam Mbah Buyut Lekor

Petilasan
Mbah Buyut Lekor

Makam Mbah Wahab di
Area Pemakaman Buniayu.
|
Mbah Buyut Lekor meninggal dunia dan dimakamkan dipemakaman Gandu Sari bersama istri dan putrinya si “Perawan Sunti”. Sepeninggal Mbah Buyut Lekor meninggalkan lahan pertanian cukup luas. Kemudian pada era masa penjajahan Belanda daerah tersebut menjadi suatu wilayah desa yang masuk dalam wilayah penjajahan Pemerintahan Belanda. Desa tersebut dipimpin oleh seorang Lurah bernama Setadipa dan bertempat tinggal di daerah guntur pada waktu itu jumlah penduduk masih sangat sedikit. Setadipa adalah seorang pemimpin yang taat kepada pemerintah diatasnya yaitu Pemerintah Kabupaten Banyumas sehingga aktif dalam membayarkan kewajibannya yaitu membayar pajak. Dan dimasa pemerintahannya pada tahun 1808 M, setiap menyetorkan pajak ke Kabupaten selalu menyuruh bawahannya untuk menemaninya menyetorkan pajak, tetapi setiap menyetorkan pajak mereka selalu dirampok didaerah Krumput sekarang menjadi perkebunan karet krumput. Dan pada akhirnya Setadipa menceritkan kejadian tersebut kepada istrinya. Dan kemudian bersedia menemani suaminya untuk menyetorkan pajak tersebut ke Banyumas, dengan menaiki kuda yang sangat gagah, dan benar sewaktu di perjalanan di daerah Krumput ia dihadang kembali oleh sekawanan perampok dan ahirnya terjadilah pertarungan yang sengit. Akhirnya sang istri mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu sebuah kemben atau selendang dan pertarungan tersebut di menangkan oleh istri Setadipa. Sesampainya di Kabupaten Banyumas Setadipa menceritakan kejadian tersebut kepada Bupati. Bupati terkejut dan meminta istri Setadipa untuk ikut menghadap Bupati, atas kejadian itu dan ia menanyakan kepada Setadipa ia berasal dari daerah mana. Setadipa didampingi istri mengatakan ia berasal dari daerah yang bernama Gandu Sari. Mendengar dan melihat kejadian itu Bupati meminta kepada Setadipa untuk mengganti nama “ Gandu sari” menjadi tersebut supaya diganti menjadi “Buniayu” yaitu Ibunya ayu atau juga Ibu yang rahayu kejadian ini terjadi pada tahun 1810 M.
Setelah era Lurah Setadipa meninggal kepimpinan di desa Gandu sari dilanjutkan oleh seorang bernama Wirabangsa dan tinggal didaerah guntur (saat ini). Lurah Wirabangsa juga dikenal dengan sebutan Lurah Ireng sampai tahun 1849 M.
Dilanjutkan era kepemimpinan Lurah Guna Tirta yang bertempat tinggal di wilayah (Bengkek saat ini). Periode lurah guna tirta adalah tahun 1850-1880 M. Dan setelah meninggalnya Periode lurah Guna Tirta pada waktu itu warga mengadakan pemilihan (pilihan dengan cara siapa yang paling banyak jongkok/dodok dibelakang calon lurah) dan mengusulkan kepada Pemerintahan Kabupaten Banyumas supaya Trunadikrama menjadi pemimpin (Lurah) di Desa Buniayu. Dan pada akhirnya pada tanggal 13 bulan maret tahun 1880 M. Trunadikrama diangkat dan ditetapkan sebagai Lurah di Desa Buniayu. Lurah Trunadikrama adalah salah satu anak dari Mbah Wahad. Lurah Trunadikrama mampu mengemban amanat yang dipikulnya dengan baik. Pada masa kepemimpinannya untuk memudahkan pembagian tugas membagi wilayah desa menjadi 4 wilayah “ Grumbul “ yaitu wilayah Grumbul Bengkek, Grumbul Buniayu, Grumbul Gandu Sari dan Grumbul Guntur, dimasing-masing Grumbul dipimpin oleh seorang Bau dan dibantu oleh pamong grumbul lainnya yaitu Kebayan, Pulisi Desa. Lurah Tunadikrama adalah seorang muslim yang taat dan kuat dalam menjalankan Aqidahnya sehingga mau beribadah haji, sepulang dari ibadah haji beliau diberi nama H. Abdul Rozak yang sampai saat ini dijadikan menjadi nama salah satu jalan di desa buniayu.
Tunadikrama atau H Abdul Rozak menjabat Lurah di Desa Buniayu dari tahun 1880 M sampai dengan tahun 1927 M dan bertempat tinggal di grumbul Buniayu yang saat ini masuk dalam lingkungan RT 04 RW 02. Dengan diangkatnya lurah Tunadikrama dan diakui dan disahkan oleh Pemerintah pada waktu itu hingga Tunadikrama menjabat menjadi lurah di wilayah desa buniayu selama kurang lebih 47 tahun, hal ini telah disepakati sebagai tonggak awal berdirinya desa buniayu didalam kepemimpinan seorang Lurah. Dan hari diangkatnya Turnadikrama sebagai Lurah diperingati sebagai hari jadi Desa Buniayu hingga sekarang.
Setelah itu dipimpin oleh Lurah Martasenjaya (adalah mantan sekdes Tunadikrama) dari tahun 1928 sampai dengan 1936 yang di wilayah grumbul bengkek beralamatkan sekarang Kadus 1 ( lingkungan RT 05 RW 01 ).
Kemudian pada tahun 1937 diadakan pemilihan Lurah dan terpilih Surasentana putra dari Trunadikrama ( H. Abdul Rozak ) tetapi konon Surasentana seorang buta huruf sehingga ia menjabat Lurah hanya selama 3 bulan.
Selanjutnya pada tahun 1937 sampai tahun 1944 dijabat oleh Lurah Sumarjo (adalah mantan sekdes Marta Senjaya).
Tahun 1944 sampai dengan tahun 1945 di jabat oleh Warnen ( penjabat sementara ) Wangsandinama selama enam bulan dan diteruskan oleh Warnen Kasrun sampai tahun 1946.
Tahun 1947 sampai tahun 1948 dijabat oleh Lurah Madmustar alias Mintar ( Cucu dari Lurah Trunadikarama atau H. Abdul Rozak ).
Tahun 1948 sampai dengan tahun 1949 dijabat oleh Warnen Dulah Aspar dikarenakan pada waktu itu Madmustar mengungsi disebabkan Desa Buniayu dimasuki Belanda dan setelah aman Madmustar meneruskan jabatannya kembali sampai tahun 1956.
Pada periode tahun 1957 sampai dengan tahun 1978 dijabat oleh Lurah M. Sofandi ( Buyut dari Trunadikrama alias H. Abdul Rozak ). Selama enam bulan tahu 1978 di jabat oleh YMT Lurah oleh M. Jajuli dikarenakan sedang menunaikan ibadah haji. Setelah pulang beliau meneruskan jabatan sampai tahun 1989 ( 32 tahun ). Pada masa pemerintahan M. Sofandi melakukan pembagian atas wilayah kerja menjadi 4 wilayah Rukun Warga ( RW ) dan 20 Rukun Tetangga. Peninggalan atas hasil-hasil pembangunan pada era ini diantaranya adalah :
1. Pembangunan Kantor Balai Desa Buniayu
2. Pembangunan DAM Besuki.
3. Pembangunan tempat Pendidikan SD 1 s/d SD 3 Buniayu
4. Pembuatan Jembatan Brug Seng Guntur, dan kegiatan pembangunan lainnya.

Sumber
: Dok. Foto Desa Buniayu
Salah satu hasil pembangunan yang sangat banyak dimanfaatkan oleh masyarakat desa buniayu hingga kini khususnya bagi para petani adalah pembangunan Bendung Besuki. Sebagai sarana utama untuk mengalirkan air melalui saluran irigasi ke persawahan.

Sumber
: Dok. Foto Desa Buniayu
Tahun 1989 sampai 1990 dijabat oleh Kepala Desa Alwi Fathudin ( Canggah dari Trunadikrama alias H. Abdul Rozak ) selama 1 tahun.
Tahun 1990 sampai dengan 1991 dijabat oleh YMT kades Suparman dikarenakan ada suatu halangan sebelum purna tugas usai digantikan oleh YMT.Mantri Pulisi Kecamatan Tambak.
Tahun 1991 sampai dengan 1999 dijabat oleh Kepala Desa Salimin, dimasa pemerintahannya diantara hasil pembangunan yang dihasilkan yaitu :
1. Pembangunan Pendopo Balai Desa
2. Pembangunan Polindes
3. Pembangunan 3 Jembatan yaitu Jembatan Ma’nan, Jembatan Lor Sepur dan Jembatan Guntur Rowokele.
4. Pembuatan lapangan sepak bola Grumbul Sigandu
Setelah masa jabatan usai ada selang waktu pemilihan Kepala Desa maka di isi oleh YMT dari Tahun 1999 sampai 2001 dijabat oleh YMT Kades M. Kasturi dengan hasil pembangunan :
1. TK Pertiwi desa Buniayu
Tahun 2001 sampai dengan tahun 2006 dipimpin oleh Kepala Desa Towiah dengam diantara hasil pembangunan yang ada adalah sebagai berikut :
2. Pengerasan jalan P2MPD serta peningkatan mutu jalan lainnya
3. Pembangunan 2 Jembatan RT 03 RW 03 dan RT 05 RW 03
4. Pembangunan Mushola Balai Desa
Tahun 2006 sampai dengan tahun 2007 ada selang waktu dalam pemilihan Kepala Desa maka Kepala Desa dijabat oleh PJ Kepala Desa Satori (Canggah Lurah Trunadikrama alias Lurah H. Abdul Rozak) dengan hasil pembangunan :
Tahun 2007 sampai dengan tahun 2013 dipimpin oleh Kepala Desa Kasir dengan hasil pembangunan yaitu :
1. Pengaspalan jalan Sigandu sepanjang 850 m.
2. Pembuatan Blok Cor di beberapa lingkungan dengan Program PNPM Mandiri Perdesaan.
3. Program air bersih berbasis masyarakat (Pamsimas)
4. Pembangunan saluran tersier Buniayu
Dan pada periode sekarang tahun 2013 sampai dengan 2019 dipimpin oleh Kades SATORI (Canggah Lurah Trunadikrama alias H. Abdul Rozak) yang sedang berjalan saat ini. Dengan mengemban SK Bupati Banyumas Kepala Desa Satori mempunyai Visi “ Mewujudkan Desa Buniayu menjadi desa yang maju dan berkembang menuju desa yang makmur sejahtera “. Dibawah kepemimpinanya mampu menjalankan Pemerintahan Desa sesuai regulasi aturan yang berlaku. Melalui RPJMDes 2014-2019 dan RKPDes setiap tahunnya yang didukung Dana Desa yang bersumber dari APBN pusat dan Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten Banyumas hingga saat ini telah banyak melaksanakan pembangunan fisik maupun non fisik diantaranya berupa:
1. Pembangunan Gedung Pos PAUD “ Melati”
2. Peningkatan Mutu Jalan di 4 Wilayah Kadus.
3. Peningkatan Sarana Irigasi untuk mengairi pesawahan.
4. Penanganan tebing Sungai Ijo dengan Parapet.
5. Penggantian/Pembangunan Jembatan Kali Seng.
6. Pembuatan Tapal Batas Desa.
7. Pembangunan Los dan Kios Pasar Desa.
8. Pembentukan BUMDes.

Demikian telah ditulis oleh Sekretaris Desa Buniayu pada 26 November 2018 yang dikutip dari berbagai sumber yang dapat dipercaya diantaranya :
1. Kepala Desa Buniayu H. Satori
2. Mantan Sekdes Buniayu H. Tjiptosantosa